Kota Padang (KABARIN) - Pakar Ilmu Teknologi Pangan Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat, Prof Novelina, mengingatkan masyarakat agar tidak mencampurkan penanganan daging kurban dengan jeroan seperti usus, limpa, dan bagian lainnya karena berisiko terhadap kesehatan.
“Proses penyembelihan hewan kurban ini mesti dijaga, terutama tidak mencampurkan antara jeroan dengan daging, apalagi sampai terkontaminasi dengan isi usus,” kata dia di Kota Padang, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa jeroan mengandung bakteri patogen yang dapat dengan mudah mencemari daging jika penanganannya tidak tepat, terutama apabila terjadi kebocoran isi usus saat proses pengolahan.
Menurutnya, praktik pencampuran atau kontak langsung antara jeroan dan daging harus dihindari untuk mencegah risiko kontaminasi bakteri yang dapat membahayakan kesehatan konsumen.
Selain itu, ia menekankan pentingnya manajemen waktu dalam proses penanganan daging kurban, mulai dari penyembelihan, pembersihan, pembagian, hingga penyimpanan atau konsumsi.
Novelina juga mengingatkan bahwa suhu lingkungan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Bakteri pada daging dapat ditekan pada suhu di bawah 5 derajat Celsius atau di atas 70 derajat Celsius, namun akan berkembang cepat pada suhu ruang.
“Jadi, kalau tempat penanganannya tidak bersih, ini bisa menyebabkan daging kurban terkontaminasi,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat untuk segera membersihkan dan menyimpan daging kurban di freezer agar tetap higienis dan aman dikonsumsi, sekaligus mengurangi risiko pertumbuhan bakteri dari lingkungan maupun proses penanganan yang kurang steril.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026